29/11/2022
PCM Nalumsari

Eksistensi PCM Nalumsari Membangkitkan Jama’ah Pedesaan

kontributor : Oleh Taufiq Nugroho N, S.Sos I, S,Pd

Muhammadiyah selama ini dikenal sebagai organisasinya kelas menengah Indonesia. Artinya, para anggota dan simpatisan didominasi oleh mereka yang profesinya berada di tengah hierarki sosial, seperti pedagang, pegawai negeri, pamong praja, pekerja swasta dan guru. Ini tidaklah mengherankan mengingat akar Muhammadiyah yang kuat di kota. (Muhammad Yuanda Zara, SM, Edisi 03, 1-15 February 2019). Jiwa Muhammadiyah adalah spirit kota, artinya semangat yang dibangun adalah berkompetisi (fastabiqul Khoirot), mencerdaskan ummat, open minded dan egaliter. Pada awalnya semangat ini hanya ada di masyarakat perkotaan. Seiring berjalannya waktu maka semangat kota ini menjadi milik semua warga persyarikatan baik yang tinggal di kota maupun desa. Hal ini terbukti, saat ini PCM dan PRM juga tumbuh baik di pedesaan. Bahkan PCM ikut membantu peradaban bangsa ini dengan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), seperti; sekolah, panti asuhan, rumah sakit, perguruan tinggi, BMT dan lain sebagainya di seluruh pelosok Nusantara.

Kantor PCM Nalumsari

Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) bersama Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) menjadi ujung tombak dakwah Muhammadiyah di akar rumput Masyarakat. PCM Nalumsari seperti PCM yang lain juga bergerak membangkitkan jama’ah di daerah pedesaan. Berbicara tentang eksistensi Muhammadiyah di Kecamatan Nalumsari, berarti mengungkapkan sejarah panjang gerakan Muhammadiyah yang sudah tumbuh berkembang di ranting-ranting sejak tahun 1960-an. Hal ini diungkapkan oleh Ketua PCM Nalumsari, K.H. Drs. Badrudin Noor, bahwa PRM Dorang, Blimbing Rejo, PRM Bendan Pete dan PRM Nalumsari sudah berdiri di tahun 1960 –an. Tokoh-tokoh Ranting itu adalah; K.H Noor Su’udi (Dorang), Bp. K. Umar Hasim (Blimbing Rejo), K.H Mustain (Nalumsari) dan K. Anshori  (Bendan Pete). Banyak bangunan monumental seperti Masjid Taqwa, Madrasah, SD Muhammadiyah dan Mushola di wilayah Nalumsari. Hal ini menunjukkan bahwa gerakan Muhammadiya sudah lama berkiprah di daerah ini. Pada tahun 1990-an terbentuklah Kecamatan baru, yaitu Kecamatan Nalumsari yang memisahkan diri dari Kecamatan Mayong. Karena hal itu, maka desa-desa yang termasuk administrasi kecamatan Nalumsari membentuk PCM Nalumsari. PCM Nalumsari terbentuk hasil Musyawarah Cabang (Musycab) yang diadakan di Ranting Dorang tahun 1996, kata K.H. Sujadi, mantan ketua PCM Nalumsari. Terbentuklah kepengurusan, ketua umum: K.H. Noor Su’udi. Wakil ketua Drs. Badrudin Noor, Sekretaris: Bambang Nur Edi, A.Md, Bendahara: H. Soegiyanto. Ketua Majelis Tarjih: K. H. Sujadi, Ketua Majelis Dikdasmen: Subari, S.Pd, Ketua Majelis Waqaf; K. Subkhan, Ketua Majelis Ekonomi: H. Mughni. Sebagai bukti dakwah bil Hal, maka Pada periode awal ini PCM Baru merintis pendirian Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah (Mts). Pada tahun 1999 berdirilah MTs Muhammadiyah dan menerima peserta didik baru berkampus di komplek perguruan SD Muhammadiyah Blimbing Rejo, sebelum pindah ke  kampus baru di komplek Masjid Baitul Muttaqin Blimbing Rejo. PCM Nalumsari berharap MTs Muhammadiyah ini menjadi sekolah kader untuk mendakwahkan Islam lewat Muhammadiyah di waktu yang akan datang.

Komplek masjid Baitul Muttaqin Blimbingrejo dan MTs Muhammadiyah Nalumsari

Obyek dakwah Muhammadiyah di Kecamatan Nalumsari adalah masyarakat pedesaan dengan profesi sebagai, petani, buruh, tukang dan juga perantauan. Dari segi sosial ini menunjukkan mereka bukan termasuk kelompok menengah atau terpelajar, tentu metode dakwah yang dipakai harus mampu menyentuh mereka. Keunggulan Jama’ah Muhammadiyah di Nalumsari adalah kekuatan komunitas warga persyarikatan yang jumlahnya cukup besar secara kuantitas membentuk sebuah kampung Muhammadiyah. Warga persyarikatan Nalumsari memiliki karakter mencintai gotong – royong, saling tolong menolong dan semangat menuntut ilmu agama. Salah satu kunci kekuatan Muhammadiyah dapat bertahan  dan terus berkembang sampai sekarang adalah terletak pada kekuatan jamaahnya. Jamaah yang ikhlas beramal, berkorban, terbuka, egaliter dan semangat kemajuan untuk mendakwahkan Islam lewat gerakan Muhammadiyah. Kekuatan yang juga menyertai warga persyarikatan Nalumsari adalah think globally but do locally. Berfikir global mendunia tetapi beraksi nyata apa yang ada di depan mata kita. Hal inilah yang menjadikan  AUM tumbuh maju, baik yang dikelola PCM (MTs Muhammadiyah Nalumsari) ataupun yang dikelola PRM (SD Muh Blimbing Rejo, Ponpes Assyfa Blimbing rejo, Madrasah Manafiul Ulum Blimbing Rejo 1,2,3, Madrasah Diniyah Al-Ishlah Muhammadiyah Dorang, TK ABA Dorang, PAUD Tiadora Dorang, BMT surya bersinar Dorang, TK ABA 1, 2 Blimbing Rejo Blimbing dan AUM yang lain. Aktifis persyarikatan berfikiran luas itu penting tetapi tidak boleh berjuntai diangkasa, tetapi aplikasi dakwah harus nyata di lapangan, yaitu dengan berdirinya amal usaha Muhammadiyah (AUM) di masyarakat. Eksistensi jama’ah Muhammadiyah di Nalumsari ini mampu bangkit karena ditopang dengan pengajian dan pengkaderan yang mencerahkan.

Latihan seni beladiri Tapaksuci Madin Al Ishlah Muh. Dorang

Dalam sejarah perjuangan Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dengan jama’ah dan pengajiannya. Menurut K.H. dr. Agus Taufiqurrohman, Ketua Pimpinan Pusat Bidang Kesehatan, mengatakan, bahwa dulu kita sering belajar tentang masalah lima, yaitu tentang apa itu agama, dunia, jihad fii sabilillah dan ibadah. Juga menggali kembali nilai-nilai yang ada dalam Muqoddimah AD/ART, Kepribadian, dan Matan Keyakinan dan cita-cita Hidup Muhammadiyah. Itu harus kita sebarkan, ajarkan hingga mengimplementasikannya, dan senantiasa terus dikawal. Basis Muhammadiyah adalah jama’ah dan pengajian. Hal ini pula yang telah dipraktekkan PCM Nalumsari untuk membangkitkan kekuatan jamaah masyarakat pedesaan lewat jamaah dan pengajian. Kelebihan dari PCM Nalumsari dibanding dengan PCM yang lain adalah para perintis berdirinya Muhammadiyah di cabang dan ranting adalah putra daerah, sehingga resistensi (daya tolaknya) kecil. Disisi yang lain para perintis itu mampu membentuk komunitas jama’ah Muhammadiyah yang ri’il, membentuk kaum di beberapa ranting. Komunitas jama’ah ini berdiam dalam satu tempat sehingga kadang disebut “Kampung Muhammadiyah”. Komunitas Jama’ah Muhammadiyah, berdasar  kuantitas warga dari yang besar bisa kita sebutkan, yaitu; PRM Blimbing Rejo, PRM Dorang, PRM Bendan Pete dan PRM Nalumsari.

PRM Blimbing Rejo mempunyai warga sekitar 3000-an jiwa, sebuah Masjid, 5 Mushola, 3 Madrasah Diniyah, satu SD Muhammadiyah dan satu PONPES Assyifa’ Muhammadiyah. Dengan memperhatikan persebaran warga Muhammadiyah di PRM Blimbing Rejo maka dibentuklah Sembilan kelompok pengajian yang aktif berjalan setiap bulan kata Ustadz Nor Wahid, S.Pd I, aktifis PRM Blimbing Rejo. Setiap ortom mengadakan pengkaderan berkala (IPM, TSPM, PM, NA). Sebulan sekali mengadakan Tabligh oleh Ustadz-Ustadz Muhammadiyah dari PWM Jawa Tengah. Disisi lain Ketersediaan Mubaligh dan Ustadz cukup terpenuhi, karena sebagian besar profesi mereka adalah guru, petani, tukang, pengusaha dan pengrajin ukir. Profesi ini memungkinkan mereka tetap tinggal didesa dan ikut mengembangkan dakwah Muhammadiyah di ranting Blimbing Rejo. Keunggulan lain Muhammadiyah kultural di ranting ini adalah Petinggi (kepala desa), Carik, Ketua BPD, Modin, Perangkat desa dari warga persyarikatan Muhammadiyah.

Ustadz Ustadzah MTs Muhammadiyah Nalumsari

PRM Dorang mempunyai warga sekitar 1000-an, satu Masjid At Taqwa, tiga Mushola, Satu Madin, satu PAUD, satu TK ABA dan satu BMT KSP. Pengajian dan kajian berlangsung dengan baik, yaitu pengajian arisan bapak-bapak setiap sebulan sekali berputar dari rumah ke rumah, pengajian ibu-ibu Aisyiyah setiap ahad sore, pengajian Nasyiatul Aisyiyah setiap malam ahad ba’da Magrib, pengajiam AMM sebulan sekali di Gedung Dakwah Muhammadiyah K.H. Noor Su’udi, latihan TSPM anak-anak Madin setiap ahad sore. Di samping itu juga pengajian Ta’ziyah selama tiga hari tanpa makanan dan minuman juga tanpa ada ritual “kirim ganjaran”, kata Ustadz Taufiq Nugroho N, ketua AMM ranting Dorang. Dia menambahkan perlu banyak kader muda yang harus dipersiapkan untuk menjadi Mubaligh untuk mendampingi ummat yang semakin banyak. Seyogyanya kedepan banyak anak-anak warga persyarikatan yang dikirim ke Pondok Pesantren Muhammadiyah disekitar Jepara. Sebagian besar profesi mereka adalah petani, tukang kayu dan perantau bagi para pemudanya. Hal ini menjadikan warga banyak yang tetap bisa berjama’ah di Masjid dan Mushola. Bertambah baiknya ekonomi warga menjadikan pendidikan anak-anak mereka semakin baik. Rata- rata mereka sekolah di MTs Muhammadiyah Nalumsari atau mondok di Ponpes Assyifa’ atau Ponpes Muhammadiyah Kudus kemudian melanjutkan di SMA /SMK Muhammadiyah Mayong ada juga yang di kudus. Beberapa dari mereka melanjutkan kuliah. Keunggulan yang lain dari kader Muhammadiyah di desa Dorang juga ikut berperan sebagai Ketua BPD, perangkat desa, Ketua RW dan RT. Hal ini menunjukkan selain sebagai kade persyarikatan harus siap menjadi kader ummat dan juga kader bangsa.

Gambar 5. Santri TPQ dan Madin di depan masjid AT-TAQWA Muhammadiyah Dorang

PRM Bendan dan Nalumsari tidaklah besar namun dua PRM ini tetap mempunyai warga jama’ah Muhammadiyah yang riil. Pusat gerakan mereka di Masjid Taqwa Bendan Pete dan Nalumsari. PRM Bendanpete mempunyai potensi untuk maju, hal itu terlihat dari bangunan Masjid Taqwa Bendanpete yang semakin bagus dan juga di fungsikan sebagai Madin untuk lantai dua. Sementara PRM Nalumsari sedang berjuang membeli tanah untuk memperlebar Masjid Taqwa dan membangun Madin. Beberapa kader IPM disekolahkan di MTs Muhammadiyah Nalumsari, SMA /SMK Muhammadiyah Mayong.

Ketua PCM Nalumsari, K.H. Drs. Badrudin Noor menambahkan, sesungguhnya PCM Nalumsari telah melaksanakan pengembangan Cabang dan ranting lewat Gerakan Jama’ah dan dakwah jama’ah (GJDJ) seperti didengungkan dalam setiap muktamar. Bahkan dalam Muktamar ke-46 di Jogjakarta berhasil mendirikan Lembaga pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) sebagai wadah untuk menjawab persoalan dakwah Muhammadiyah di akar rumput (Cabang dan Ranting). Pembinaan keluarga-keluarga dalam jamaah Muhammadiyah sudah dilakukan oleh K.H Ahmad Dahlan dengan melakukan perjalanan terhadap jama’ah di Banyuwangi, komunitas Muhammadiyah di Jakarta dan juga di Jawa Tengah. PCM Nalumsari juga mengikuti jejak langkah beliau untuk melakukan langkah penguatan Jama’ah lewat cabang dan ranting untuk membentuk kohesi sosial/solidaritas menghadapi Tahayyul, Bid’ah dan Khurofat (TBC) abad modern dan melawan pemahaman kelompok radikal atau kelompok yang ingin hidup di Persyarikatan tetapi tidak mau menghidupkan Persyarikatan. Alhamdulillah pada tahun 2019 terbentuk PRM baru yaitu PRM Tunggul Pandean. Dengan sebuah Masjid Taqwa berdiri kokoh dengan tokohnya DR. Jayus, Mantan anggota DPRD Jateng. Saat ini Ketua PCM Nalumsari adalah; DRS.H. Badrudin Noor, Sekretaris PCM; Agung Riyanto, S.Pd. Bendahara: H. Mukhlison, S.Pd.

Gambar 6. Pengurus Harian Pimpinan Cabang Muhammadiyah Nalumsari

DR. Yudi Latif (HU Republika 21 November 2012).- Muhammadiyah akan tetap Berjaya di abad kedua kalau mau mengikuti spirit K.H Ahmad Dahlan. Hal ini bukan kultus individu tetapi, menghidupkan Ahmad Dahlan bermakna merekonstruksikan hidup dan pemikirannya untuk dijadikan preskripsi aksi. Selanjutnya, tantangan bagi warga Muhammadiyah tak terkecuali warga Muhammadiyah PCM Nalumsari adalah melanjutkan dan mengembangkan karya nyata (amaliyah sosial) yang memberi kemanfaatan bagi persyarikatan, bangsa dan kemanusiaan, sehingga “Bagai sang surya menyinari dunia”. Selain itu bagaimana setiap aktifis, warga dan simpatisan Muhammadiyah Di PCM Nalumsari mampu memuhammadiyahkan keluarga Muhammadiyah. Menjadikan anak biologis Muhammadiyah menjadi anak/kader ideologis Muhammadiyah, sehingga tidak ada lagi cerita anak Kyai/ Ustadz/ Mubaligh Muhammadiyah tidak kenal Muhammadiyah dan tidak punya tinggalan Komunitas ranting Muhammadiyah. Kita bangga kepada Prof. Dr. Din Syamsudin yang mau dan mampu mendirikan dan menjadi Ketua PRM Pondok Labu setelah tidak menjadi Ketua umum PP Muhammadiyah. Semoga kita semua bisa mencontohnya.”Keep life of Muhammadiyah”, “sama mulianya menjadi aktifis PP, PWM, PDM, PCM atau bahkan PRM”,”Tetaplah mendakwahkan Islam Lewat Gerakan Muhammadiyah”.

(Taufiq Nugroho Nur, S.Sos I, S.Pd. adalah mantan ketua IMM al Faruqi IAIN Walisongo semarang, ketua PDPM Jepara (2015-2019), Ketua AMM PRM Dorang Nalumsari Jepara .Email : nugrohotaufiq45@gmail.com WA 081326185714)

Taufiq Nugroho Nur, S.Sos I, S.Pd
Total Page Visits: 2463 - Today Page Visits: 1
PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com