11/05/2021

PC Muhammadiyah Tahunan Gencarkan Pembentukan Da’i Zakat

Tahunan- (18/4/2021). Kegiatan kultum menjelang buka bersama yang dilanjutkan sholat magrib berjamaah di Masjid Al-Istiqomah kali ini menghadirkan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tahunan, Darwita, Ahad 18 April 2021 (6 Ramadhan 1442 H.) Dalam awal kultum Ustadz Darwita, mengingatkan kepada para jamaah untuk tidak lupa memanjatkan rasa syukur kehadirat Allah, SWT. selaku hamba yang lemah yang telah menerima kenikmatan begitu banyak dari Allah, SWT. dan seorang hamba yang telah menerima kenikmatan sudah sewajibnya untuk senantiasa bersyukur kepada Nya, mudah-mudahan dan insya Allah kita yang hadir ditempat ini sebagai bukti kita mensyukuri nikmatnya, nikmat sehat sehingga kita bisa hadir di majelis ini dan semoga apa yang kita lakukan mendapatkan ridlo dari Allah, SWT. Sholawat dan salam semoga senantiasa ter curahkan kepada Nabi Muhammad, SAW. mudah-mudahan kita di yaumil akhir nanti termasuk sebagai umat beliau dan mendapatkan syafa’atnya.

Lebih lanjut Ustadz Darwita menjelaskan bahwa pertemuan kali ini menyampaikan amanah hasil Workshop tentang Pembentukan Korps Da’i Zakat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah yang telah dilaksanakan pada tanggal 13 sd. 14 Pebruari 2021. Workshop ini dilakukan secara virtual dari Jepara di ikuti oleh Ketua Majelis Tablig PDM Jepara (Fadkhan) , Sekretaris (Nur Chamid) dan Bendahara (Darwita). Hasil Workshop sudah di sosialisasikan dan pada tanggal 28 Maret 2021 sebelum memasuki bulan Ramadhan ini, Majelis Tablig bersama dengan Lazismu telah mengadakan sosialisasi hasil Workshop ini yang mengundang seluruh Ketua Majelis Tablig Pimpinan Cabang Muhammadiyah di Kabupaten Jepara dan dihadiri para M.Tabligh PDA, PCA serta PDPM dan NA. kegiatannya dilaksanakan dari pagi hingga siang hari.

Dari kegiatan tersebut akhirnya terbentuklah Da’i Zakat daerah dimana Ketua-Ketua Majelis-Majelis Tablig Pimpinan Cabang dikukuhkan sebagai Da’i Zakat Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Jepara. Untuk selanjutnya agar membentuk Da’i Zakat di Cabangnya masing-masing. Jadi semua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kabupaten Jepara akan dinyatakan sebagai Da’i Zakat Muhammadiyah. Karena saya sebagai Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tahunan dan materinya belum tersampaikan di wilayah PCM Tahunan, maka kegiatan sosialiasi akan dilakukan di masjid-masjid yang ada di wilayah Tahunan termasuk salah satunya di Masjid Al-Istiqomah Tahunan ini.

Dari Workshop masalah zakat ini besifat dalam bentuk informasi, motivasi dan fiqih tentang zakat dengan hasil sbb.:

1. Informasi sambutan dari Bapak Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Jawa Tengah, Drs. H. Tafsir, M. Ag tentang hal literasi masyarakat terhadap zakat. Pemahaman masyarakat kaum muslimin secara umum atau khususnya terhadap warga Muhammadiyah di Jawa Tengah dinyatakan menurut hasil survey semua unsur organisasi atau simpatisan warga Muhammadiyah belum mampu sepenuhnya menguasai masalah zakat sehingga zakat yang direncanakan misalnya di Jawa Tengah setiap tahunnya bisa terkumpul 200 milyar, untuk tahun 2020 kemaren terkumpul 93 milyar. Sedangkan Lazismu di tingkat nasional direncanakan terkumpul 500 milyar, baru terkumpul 239 milyar. Tentunya hal ini masih jauh dari harapan. Artinya pemahaman terhadap masalah zakat belum memasyarakat sehingga perlu di sosialisasikan. Kultur, kebiasaan, tradisi masyarakat Islam secara umum dan warga Muhammadiyah secara khusus, yang sudah terbangun dalam masing-masing jamaah terkait zakat dilakukan di mushola atau masjid-masjid terdekat dan tidak menyalurkan ke amil zakat yang telah di syahkan oleh Pemerintah. Badan Amil Zakat yang telah disyahkan pemerintah di Indonesia ada lima yaitu Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Lazismu (Muhammadiyah, LazisNu (Nadlotul Ulama), Dompet Dhuafa dan Rumah Zakat. Lima Badan Amil Zakat inilah yang memenuhi syarat yang sudah teruji dalam hal keprofesionalannya untuk mengelola zakat. Sedangkan untuk Muhammadiyah sendiri ditingkat kabupaten ada Lazismu di tingkat daerah sedangkan di tingkat cabang-cabang disebut sebagai kantor layanan Lazismu

2. Dalam melaksanakan tugasnya Lazismu harus Jujur dan Profesional . Hal ini untuk menambah kepercayaan masyarakat terhadap Lazismu. Menurut badan audit baik di tingkat daerah, wilayah maupun nasional, Lazismu berdasarkan hasil audit hasilnya cukup bagus. Sedangkan untuk perolehan Lazismu di tingkat Kabupaten Jepara perolehan zakat pada tahun antara 2019 hingga 2020 mengalami penurunan seperti di Cabang Keling dari 268 juta menjadi 94 juta, Cabang Donorojo 63 juta menjadi 63 juta, Cabang Kembang 130 juta menjadi 101 juta, Cabang Bangsri 258 juta menjadi 262 juta, Cabang Mlonggo 38 juta menjadi 47 juta, Cabang Pakis Aji 20 juta menjadi 20 juta, Cabang Jepara 334 juta menjadi 351 juta, Cabang Tahunan 177 juta menjadi 145 juta, Cabang Batealit 69 juta menjadi 82 juta, Cabang Kedung 22 juta menjadi 25 juta, Cabang Pecangaan 34 juta menjadi 33 juta, Cabang Mayong 212 juta menjadi 160 juta, Cabang Nalumsari 163 juta menjadi 131 juta, Cabang Welahan 24 juta menjadi 24 juta.

3. Agar Lazismu memperoleh kepercayaan masyarakat maka dibutuhkan Da’i Zakat yang menyampaikan masalah urusan zakat. Pengelola Lazismu baik di tingkat Ranting, Cabang, Daerah, di dalamnya belum banyak terdapat mubaligh zakat. Artinya mubaligh yang mempunyai keahlian untuk menjelaskan tentang materi zakat belum banyak.

4. Adanya kerjasama antara Lazismu dengan Majelis Tabligh baik di tingkat pusat, PDM, PCM, hal ini dikarenakan agar Da’i Zakat, para mubaligh-mubaligh zakat itu diperhatikan kesejahteraannya dari hasil Lazismu. Sampai ada pesan dari Bapak Tafsir, “Jangan sampai ada mubaligh Muhammadiyah yang mati tapi tidak diketahui( mati ra konangan)”. Jangan sampai mubaligh Muhammadiyah yang sudah syiar kemana-mana tapi masih juga memikir dapurnya harus bisa tetap mengepul, untuk itu para mubaligh Muhammadiyah sudah saatnya diperhatikan kesejahteraannya dari hasil Lazismu.Sementera itu dalam kultumnya, Ustadz Darwita menyampaikan pesan Ketua Lazismu Pusat, Bapak Hilman Latief, memberi motivasi kepada jamaah Muhammadiyah yaitu pertama, kita harus berupaya membangun kesadaran masyarakat dan warga persyarikatan untuk berzakat. Karena banyak orang-orang yang tidak mau berzakat karena berpandangan dari hasil usahanya sendiri sehingga merasa berat untuk berzakat. Dalam akhir kultumnya, Ustadz Darwita berpesan kata-kata membayar zakat itu diganti dengan kata-kata menunaikan zakat karena zakat itu merupakan kewajiban untuk kita. Kalau kita sebagai orang Islam menunaikan sholat dan zakat itu merupakan suatu hal yang biasa karena sholat dan zakat merupakan kewajiban orang Islam. Lain halnya kalau orang Islam bisa menambah dengan berbagai misalnya sholat sunah, suka bersodaqoh, suka beramal, hal inilah suatu hal yang sangat hebat. Ketika kita menunaikan zakat, sebaiknya di laksanakan di lembaga yang sudah ada, yaitu seperti Lazismu.

Usai Ustadz Darwita mengisi kultum sebelum berbuka puasa yang kemudian diteruskan dengan sholat magrib berjamaah. kegiatan dilanjutkan dengan sholat isya dan tausiyah seputar Ramadhan serta di tutup dengan sholat witir berjamaah.

Kontributor : Muslim

Total Page Visits: 166 - Today Page Visits: 3